Karnaval Asa

Cerpen Nunung Deni Puspitasari

DUNIA gempar. Seluruh  Media massa memberitakan bahwa semua ibu di seluruh negeri mengalirkan darah dari teteknya. Mereka tak lagi bisa memproduksi susu yang bisa mencerdaskan orok-orok yang baru dilahirkan. Para dokter sibuk menganalisa keajaiban luar biasa tersebut. Bahkan seluruh negara sepakat untuk mengangkat kasus ini sebagai keajaiban dunia nomor delapan. Bayi-bayi menangis kelaparan. Walhasil, semua susu yang ada di susupkan kemulut mereka melalui botol. Saking parahnya, karena persediaan susu sapi dan kambing habis maka segala jenis binatang yang memproduksi susu di perah habis-habisan. Seperti babi, anjing, singa, kucing. Para kyai berkumpul di lapangan terluas di negara mereka  masing-masing untuk berdoa bersama meminta ampun atas dosa yang di perbuat negeri mereka tercinta kepada-Nya. Tak ketinggalan Gereja, Pura, Wihara penuh dengan umat yang khusuk berdoa. Sungguh peristiwa yang  di luar kemampuan dan logika manusia.

Kejadian yang luar biasa ini menjadi urusan yang akan merepotkan bagi para pejabat yang duduk di kursi pemerintahan. Mereka harus memasok sebanyak-banyaknya binatang penghasil susu untuk memenuhi kebutuhan  yang di perlukan perut  para bayi. Dan resikonya harga binatang melebihi segala barang mewah. Mobil kini tak lagi menjadi barang berharga. Semua harga anjlok, binatang mamalia melonjak tinggi. Bahkan kebanggan tersendiri bila memiliki binatang dengan harga mahal parkir di depan rumah. Para koruptor tak lagi mengkorupsi uang melainkan telah berganti dengan mengkorupsi binatang. Status orang pun berubah. Rumah tingkat dan mobil mewah bukan lagi standar kekayaan. Semuanya telah di rubah dengan binatang. Gila. Dunia memang sudah gila. Lebih gila lagi para ilmuwan kini berusaha menemukan bahasa binatang. Berbagai formula di meja mereka di kerahkan untuk bisa mengerti bahasa binatang.

Darah yang mengalir dari tetek ibu semakin deras saja. sudah berbagai cara di kerahkan untuk menghentikan darah yang mengucur tersebut. Dokter kewalahan. Ilmuan kewalahan. Bahkan ada yang mengaku bahwa semasa kuliah mereka hanya formalitas saja. Kualitas mereka pas-pasan. Hanya sekedar mengejar titel yang bisa membawa mereka ke martabat yang lebih tinggi. Meski tidak semua. Apa boleh buat. Darah dari tetek ibu terus mengalir. Belum juga di temukan  penangkalnya. Para ibu menangis. Mereka sendiri kebingungan dengan kejadian yang menimpa mereka. Ibu-ibu yang sedang hamil berharap bayi yang akan dilahirkan berkelamin laki-laki. Para gadis ketakutan. Mereka menutup rapat-rapat putting mereka. plester, perban, dan apa saja yang bisa menyumpal putting mereka. Para lelaki kelojotan. Tak bisa lagi melihat pemandangan tetek. Tak lagi bisa menikmati tetek. Pusing. Sungguh pusing.

Belum selesai masalah darah yang keluar dari tetek ibu, muncul masalah baru yang tak lebih mengerikan. Semua bayi yang mengkonsumsi susu binatang  berubah tingkah lakunya. Kelakuan mereka persis dengan binatang yang jadi ibu keduanya. Kemarin kulihat seorang balita anak tetanggaku mengaum karena ibunya tak mau mengajaknya bermain. Bayi mengembik, melenguh, mengeong, meringkik dan meraung sudah menjadi pemandangan yang biasa. Bahkan tak jarang ada yang jalannya meloncat-loncat. Setelah kuselidiki teryata ia mengkonsumsi susu kangguru. Bagaimana dengan bayi yang mengkonsumsi susu babi? Bisa anda bayangkan bukan?

Aku menyebutnya tetek, bukan payudara, mimik, susu atau buah dada. Bukan apa-apa. Bagiku sebutan tetek lebih manusiawi dan juga lebih indah. Ya, tetek adalah emas tak ternilai yang dimiliki wanita. Keindahan yang dimilikinya mampu membuat jakunku turun naik. Meski hanya berbentuk sederhana – bulat dengan titik hitam di tengahnya – namun jasanya melebihi guru yang sering di sebut pahlawan tanpa jasa. Tentu saja. Tetek bisa di sebut jembatan manusia memulai kehidupannya. Tanpa tetek, orok-orok yang dilahirkan di dunia takkan mampu bertahan lama. Kalau ada pepatah yang mengatakan Surga di telapak kaki ibu mungkin mereka akan merubah kalimat itu setelah membaca cerita ini dengan pepatah Surga di putting tetek ibu. Bukankah pahala yang diberikan tetek ibu melebihi segalanya. Namun, dengan keadaan ini bagaimana nasib para bayi? Bagaimana juga dengan nasibku seorang laki-laki dewasa yang sebenarnya juga masih “membutuhkan “ tetek?

Tinon, anak perempuanku yang menginjak usia ranum, tujuh belas tahun ketakutan bukan kepalang. Ia kerepotan membantu ibunya yang juga istriku untuk menghentikan darah yang terus mengalir dari payudaranya.

“Heran, ibu sedang tidak menyusui, mengapa teteknya juga mengalirkan darah.?” Tanyanya, ketika selesai membantu isrtiku mengganti sumpal yang sudah bersimbah darah. Aku diam. Dalam hal ini aku sudah tidak menjawab apa pun. Logika manapun tak bisa menangkap keganjilan ini. Ganjil? Benarkah? Bukankah sebenarnya susu yang mengalir dari tetek semaua ibu sebenarnya juga darah. Hanya ia berubah warna ketika keluar dari putting karena melewati berbagai proses metabolisme yang kalau di terangkan bisa satu bab buku tebal dituliskan oleh dokter.

Hingga suatu hari, seluruh stasiun teve menanyangkan pembicaraan seorang wanita yang dengan garang berpidato panjang lebar. Semua orang tidak tahu identitasnya. Ia begitu saja muncul entah darimana. Dari mukanya terpancar cahaya yang terang luar biasa hingga begitu menyilaukan. Semua yang melihat terhipnotis untuk mendengarkan apa yang dikatakannya. Para ibu mngangis mendengarkan perkataan perempuan ini. Ia menamai dirinya Waha. Waha yang misterius dengan sura kemarahan yang lantang. Suara yang mengadili para wanita tanpa ampun. Mengadili wanita karena perlakuannya terhadap orok mereka. mengadili wanita yang bangga menyumpalkan botol berisi susu binatang berharga ratusan ribu dengan iming-iming pencerdasan orok mereka akan bertambah. Badannya berkeringat. Matanya melotot seakan hendak keluar ketika meneriakkan kemarahannya. Otot-otot yang mendekam di balik kulitnya menegang ketika ia berusaha menahan kemarahannya. Waha. Siapa dia? Apakah dia utusan Tuhan?

Mendengar pidato Waha, para ibu menjerit histeris. Seakan mengakui kesalahan mereka. Seluruh negeri lagi-lagi di hadapi kejadian memusingkan. Seluruh ibu menangis histeris. Yang lebih menghenrankan lagi, seluruh pabrik susu yang menyediakan susu kalengan semuanya meledak setelah Waha berpidato. Pemandangan merah, asap yang memenuhi dan orang-orang yang secara tak sengaja terkena semburan api mati dengan cara mengenaskan. Gosong dan kaku. Apakah ini Neraka yang diciptakan Tuhan?

“Aku yakin dia itu utusan Tuhan.” Begitu kalimat yang terlontar dari mulut istriku.

“Kalau begitu mengapa ia tak menyelamatkan negeri ini dengan menyembuhkan para ibu dari bencana yang mengerikan ini?” pernyataan istriku kubalas dengan pertanyaan.

“Karena ini adalah pelajaran untuk menyadarkan kita semua.”

“Dari apa, bukankah tidak semua orang jahat? Tapi mengapa semua orang di beri pelajaran untuk sadar?”

“Hanya Tuhan yang tahu. Hanya Dia.”

“Kalau begitu mengapa tak di datangkan kiamat saja?”

“Hus…kalau Tuhan belum menghendaki kiamat datang saat ini bisa saja karena beliau punya pertimbangan lain.”

“Pertimbangan apa? Memberi penderitaan. Apakah dengan pertimbangan itu?”

“Bukan” jawab istriku sambil menyorotkan sinar mata yang aneh padaku. “Bukan, Beliau ingin hanya ingin memberi kesempatan pada kita untuk memperbaiki keadaan.”

Aku diam. ***

 

Yogyakarta, 02 Maret 2017

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s